Pada negara-negara yang sedang berkembang ataupun yang sudah mengalami stabilitas politik dan agama, pendidikan menjadi perhatian yang sangat penting bagi masyarakat. Beberapa Negara termasuk Indonesia sudah mulai menekankan fungsi pendidikan formal sebagai tempat latihan serta persiapan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan lapangan untuk tenaga kerja.
Pada dasarnya
pendidikan adalah eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapanpun, sepanjang kehidupan yang akan dijalani oleh manusia tersebut, karena pendidikan merupakan budaya yang terus menerus berkembang sesuai dengan iringan zaman.
Pendidikan merupakan hal lumrah yang pernah kita dengar dari tiap waktu ke waktu. Berbagai orang senantiasa membicarakan permasalahan tersebut dikarenakan pendidikan memberikan manfaat yang sangat besar dalam kehidupan kita. Pendidikan merupakan infestasi masa tua kita, oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sepele mengenai hal tersebut.
Meski pendidikan merupakan unsur perhatian dari tiap kalangan, bukan berarti tidak terjadi permasalahan yang signifikan, carut marut pendidikan sudah dapat kita saksikan dikehidupan nyata ini, banyak orang yang masih belum memiliki pendidikan yang sewajarnya didapatkan oleh seorang anak bangsa. Pada dasarnya kualitas pendidikan yang dijalani oleh masyarakat indonesia masih sangat minim. Masuk lagi lebih dalam dalam dunia pendidikan, dapat kita lihat banyak permasalahan yang terjadi dilingkungan pendidikan, khususnya di dalam kelas.
Dalam dunia pendidikan yang sudah diprogramkan pemerintah, sudah terdapat jenjang-jenjang dalam menempuh formalnya lembaga yang sudah diatur oleh negara, mulai dari lembaga pendidikan yang paling dasar (TK/Play Group), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Akhir/Sekolah Menengah kejuruan (SMA/SMK) juga ditambah lembaga pendidikan yang berbasis agama seperti : Madrasah Diniyah Awwaliyah (MDA), Madrasah Tsanawaiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), seluruhnya sudah terakomodir dalam sistem pendidikan yang diatur oleh Negara.
Dari seluruh lembaga pendidikan yang sudah dijelaskan secara umum di atas, maka harapan bangsa untuk memajukan rakyat dalam segi intelektual akan dapat dijalankan dengan baik sesuai dengan amanat yang tertera dalam UUD 1945. Akan tetapi, dengan banyaknya lembaga pendidikan formal yang disediakan oleh pemerintah, bukan berarti tidak terdapat hambatan dan kekurangan. Sebagaimana kita telah lihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa pendidikan menjadi hal yang sangat sulit bagi orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Melonjaknya biaya dalam sekolah membuat tidak sedikit orang yang harus putus sekolah, tidak berhenti disitu, pengelolaan belajar juga sering terjadi hambatan sehingga proses belajar mengajar menjadi agar terhambat juga beberapa permasalahan lainnya yang se-gudang yang tidak dapat kami paparkan satu per-satu.
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk waktu serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”[1]. Berdasarkan fungsi pendidikan nasional di atas, maka peran pendidik menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran sekolah selain untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong anak didik untuk melaksanakan kegiatan di kelas.
Belajar merupakan suatu proses dimana seorang manusia mulai mempelajari sesuatu yang berada disekitarnya, proses dimana manusia mulai mengetahui segala sesuatu tentang segala yang belum diketahuinya. Setiap manusia memerlukan pengetahuan yang cukup dalam menjalani kehidupan yang serba menuntut kemajuan dalam berpikir. Untuk membentuk kapasitas keilmuan yang cukup, maka setiap individu manusia memerlukan pengembangan dalam pengembangan intelektual berfikir yang dibarengi dengan pendalaman pada bidang rohani yang mendasar pada ilmu ketuhanan.
Untuk menjadikan proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan efektif, kita harus mampu menjadikan proses pembelajaran dapat diterima dengan baik sehingga hasil yang dicapai juga bias memuaskan. Proses pembelajaran yang tidak memperhatikan keadaan peserta didiknya sangat berpengaruh buruk bagi tujuan pendidikan karena terlaksananya belajar yang baik dapat kita lihat dari peserta didiknya. Peserta didik merupakan manusia yang sedang dalam tahap penyempurnaan dari segala bidang dan pembelajaran merupakan jembatan sehingga manusia dapat menjadi insan yang paripurna.
Dalam belajar, tiap-tiap anak didik memperoleh tanggapan dengan cara yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh beberapa tipe penangkapan informasi manusia, antara lain :
1. Tipe visual, yang artinya cara penangkapan dan ingatan terhadap suatu informasi yang paling kuat adalah dengan cara melihat obyek.
2. Tipe auditif, artinya cara penangkapan dan ingatan terhadap suatu informasi yang paling kuat adalah dari apa yang ia dengar
3. Tipe motorik, artinya cara penangkapan dan ingatan terhadap suatu informasi yang paling kuat adalah dari rangsangan benda-benda atau obyek yang bergerak
4. Tipe tekstual, artinya cara penangkapan dan ingatan terhadap suatu informasi yang paling kuat adalah dari apa yang ia rasakan
5. Tipe campuran, artinya semua indra memiliki kemampuan yang seimbang sehingga semua informasi dapat ia serap dengan baik.[2]
Sebagai seorang pendidik yang baik, hal-hal tersebut menjadi keharusan agar dapat melaksanakan proses belajar-mengajar dengan baik. Aktifitas belajar mengajar tidaklah selalu dapat berlangsug dengan wajar, terkadang apa yang disampaikan oleh pendidik dapat diterima dengan baik oleh anak didik akan tetapi terkadang apa yang diberikan oleh pendidik sangat terasa sulit sekali diterima dan dicerna oleh anak didik. Dalam hal ini, waktu belajar merupakan salah satu hal yang mempengaruhi anak didik dalam melaksanakan proses belajar.
Belajar memerlukan waktu yang efektif sehingga dapat menunjang proses pembelajaran dengan baik. Akibat padatnya para peserta didik pada satu lembaga pendidikan, maka terjadi beberapa perubahan dalam pelaksanaan belajar mengajar. Pihak lembaga pendidikan membagi jam belajar anak didik menjadi 2 bagian, ada yang belajar di pagi hari dan ada yang belajar di siang hari. Hal ini merupakan cara agar dapat mewadahi seluruh anak didik agar dapat tetap belajar sekalipun dengan jumlah yang sangat besar, akan tetapi, dalam pelaksanaannya ada beberapa permasalahan yang harus segera dilaksanakan pembenahan agar dapat memperbaiki proses belajar.
Orang yang melaksanakan proses pembelajaran cenderung dihinggapi sifat malas, semangat dalam belajar menurun, kurang fokusnya dalam memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh pendidik juga berbagai perrmasalahan yang lebih sering menggagu anak didik sehingga mental dan keadaan psikis anak didik sangat kurang memadai untuk menerima pelajaran yang diberikan. 


0 komentar:
Posting Komentar